ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Kisah Nabi Muhammad S.A.W Pasca Hijrah : Kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. di kota Madinah dan Sambutan kaum Anshar.

Image

Setelah shalat Jum’at itu selesai, datanglah Itbah bin Malik dan ‘Abbas bin ‘Ubaid kepada Nabi Muhammad s.a.w. seraya berkata : ”Ya Rasulullah, sudi kiranya tuan singgah di tempat kediaman kita disini untuk sementara waktu.”

Rasulullah bersabda : 

”Khalluu sabiilahaa Fainnamaa ma’ muratun!”
”Lepaskanlah olehmu jalan unta ini, karena ia dip perintah!”

Mereka semua diam. Lalu Nabi Muhammad s.a.w. meneruskan perjalanannya. Maka beliau sampai di kampung Bani Bayadlah, menghadaplah Zayyad bin Lubaid dan Farwah bin ‘Amr serta orang-orang Bani Bayadlah kepada Nabi seraya berkata seperti tersebut tadi, dan lalu Nabu menjawab sebagaimana tersebut tadi pula. Ketika perjalanan beliau sampai di kampung Bani Sa’idah, menghadaplah Sa’ad bin ‘Ubadah dan Mundzir bin ‘Amr serta orang-orang dari Bani Sa’idah kepada beliau seraya berkata semacam tadi, dan Nabi memberi jawaban yang serupa. Maka ketika perjalanan Nabi sampai di kampung Bani Harits, menghadaplah Sa’ad bin Rabi’ , Kharijah bin Zaid, ‘Abdullah bin Luwahah serta orang-orang Bani Harits kepada beliau seraya berkata semacam itu pula, dan Nabi memberi jawaban yang sama. Dan demikianlah ketika beliau sampai di kampung Bani ‘Ady, menghadaplah Salits bin Qais dan Usairah bin Abi Kharijah dan orang-orang dari Bani ‘Ady seraya berkata seperti tersebut tadi, dab beliau pun memberi jawaban yang sama tadi pula. Dan ketika perjalanan Nabi sampai di kampung Bani Malik An-Najjar, sampai tepat di muka rumah Abu Ayyub (Khalid bin Zaid An-Najjar), berhentilah unta beliau, lalu segera menjerum.

Sedang waktu itu tempat itu masih dipergunakan buat mengeringkan buah-buahan kurma kepunyaan dua orang anak yatim yang bernama Sahal dan Suhail, keduanya anak ‘Amr bin ‘Afra’. Ketika itu Nabi belum suka turun dari untanya, tangan beliau masih memegang kendali unta itu, maka dengan segera unta itu bangkit dan berjalan lagi. Kemudian, belum berapa jauh unta itu dari tempat itu, kembalilah unta itu ke tempat itu, lalu menjerum lagi, dan ketika itulah Nabi Muhammad s.a.w., lalu bersabda :

”Hadza Insyaa Allah, almanzil.”
”Inilah tempat kediaman, jika ALLAH berkehendak.”
”Rabi anzilnii munzalan mubaarakaa wa anat khairul munziliin.” 
”Ya, Tuhan ! Mudah-mudahan Engkau menempatkan daku pada tempat kediaman yang di berkahi dan Engkaulah sebaik-baik yang memberikan tempat kediaman.”

Nabi berdo’a demikian sampai emapat kali sambil turun dari untanya, kemudian bertanya :

”Ayyu butuuti ahlina aqrab?
”Manakah rumah-rumah ahliku yang lebih dekat?”

Abu Ayyub dengan segera menjawab :

”Annaa. Ya Nabiyallah, Hadzihi daarii, Wa hadza banii.”
”Saya, ya Nabi ALLAH ! Ini rumahku dan ini pintuku.”

Lalu Nabi bersabda :

”Inthaliq, fahayi’ lanaa maqiilaa!”
”Pergilah dengan segera, maka sediakanlah tempat buat daku!”

Dengan segeraa Aabu Ayyub lalu masuk ke rumahnya, lalu menyediakan tempat mengaso bagi Nabi, kemudian iaa datang lagi menghadap Nabi dan berkata :

”Yaa Nabiyyalah! Qad hayya’tu maqiilaa. Faqum ‘alaa barakatillah.
”Ya Nabi ALLAH ! Sungguh saya telah menyediakan tempat mengaso bagi Tuan, Dengan berkah ALLAH, silahkan tuan berdiri masuk ke dalam.”

Sesudah itu Nabi Muhammad s.a.w. menyuruh kepada Abbu Ayyub supaya barang-barang dan perkakas-perkakas beliau di masukkan ke dalam rumah; sesudah itu beliau bersama-sama dengan sahabat Zaid bin Haritsah masuk ke rumah Abu Ayyub, yang di dalamnya telah disiapkan dan di sediakan tempat yang khusus buat Nabi Muhammad dan keluarga beliau. Unta kendaraan beliau di bawa oleh As’ad bin Zurarah ke tempatnya. Dan oleh Abu Ayyub sendiri semua barang-barang bekal Nabi di angkaatdan di letakkan di tempat yang telah di sediakan buat Nabi.

Dalam kitab tarikh dan kitab hadits diriwayatkan bahwa ketikaa Nabi Muhammad s.a.w. sampai di Madinaha, kota Madinah sudah dihiasi dengaan bermacam-macam perhiasan yaang indah-indah oleh sekalian kaum Muslimin disana; maka setelah beliau sampai disana, kaum Muslimin laki-laki dan perempuan serta anak-anak mereka dan budak belian mereka keluar dari rumah, untuk menghormati kedatangan beliau yang telah lama di nanti-nanti.

Anak-anak lelaki dan budak-budak lelaki keluar dari rumah mereka masing-masing, lalu beramai-ramai berbaris di jalan besar seraya berkata :

”Jaa a Muhammad! Jaa a Rasulullah! Ya Muhammad Ya Rasulullah!
”Telah datang Muhammad! Telah datang Rasulullah! Ya Muhammad Ya Rasulullah!

Demikianlah itu di ucapkan bersama-sama berulang-ulang. Kaum Muslimin yang mengiringkan Nabi, setelah sampai di Madinah berkata bersama-sama :

”Jaa a Nabiyyullah, Jaa a Nabiyyullah, Jaa a Nabiyyullah.”

Demikianlah berulang-ulang dengan suara yang keras, yang lalu disambut kaum Muslimin di Madinah dengan ucapan :

”Jaa a Nabiyyullah! Jaa a Nabiyyullah! Jaa a Nabiyullah!”
”Telah datang Nabi ALLAH, Telah datang Nabi ALLAH, Telah datang Nabi ALLAH!”

Adapun anak-anak perempuan waktu itu naik ke atas rumah mereka masing-masing sambil bersama-sam membaca syair :

”Nahnu jawaari min bani Najjar! Ya habbadzaa Muhammad minjaar!”
”Kita anak-anak perempuan dari keturunan Najjar, hai orang yang cinta bertetangga dengan Nabi Muhammad!”

Mendengar suara sedemikian itu Nabi Muhammad s.a.w. bertanya :
”Apakah kamu sekalian sama cinta kepadaku?”

Mereka menjawab bersama-sama :
”Na’am yaa Rasuulallah!”
”Ya, sudah barang tentu Ya Rasulullah”

Nabi menyahut :
”ALLAH mengetahui bahwa hatiku cinta kepada kamu sekalian!”

Dan sebagian dari orang-orang perempuan pada saat itu berpantin sambil memukul rebana :

Thala’al badru ‘alaynaa. Min Syaniyaatil wadaa’.
Wajabasysyukru ‘alaynaa. Maa da’aa lillahidaa’.
Ayuhal mab’uutsu fiinaa. Ji’ta bil amril muthaa’.

Telah terbit bulan purnama atas kita ; dari – kampung Tsaniyatil Wada’. Atas kita wajib berterima-kasih ; karena yang berseru kepada ALLAH telah berseru. Hai orang yang di bangkitkan atas kita, engkau telah datang dengan perkara yang menundukkan – kita kepada Tuhan.” 

Demikianlah seterusnya, pantun-pantun kehormatan yang di ucapkan oleh kaum Muslimin dan Muslimat serta anak-anak mereka dan budak-budak mereka pada saat datangnya Nabi Muhammad s.a.w di Madinah, sampai pada saat Nabi turun dari kendaraan dan masuk ke rumah sahabt Abu Ayyub r.a.(sahabat Abu Ayyub itu namanya Khalid bin Zaid ; beliau adalah seorang dari keluarga Bani Najjar, dan golongan dari ‘Arab Khazrj.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: