ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Kisah Nabi Muhammad S.A.W Pasca Hijrah : Nabi Muhammad S.A.W. Mendirikan Masjid di Madinah

Image

Kurang lebih tujuh bulan lamanya Nabi Muhammad s.a.w. bertempat tinggal di rumah sahabat Abu Ayyub r.a. ialah semenjak beliau datang di Madinah sampai mendirikan masjid dan rumah sendiri. Pada saat Nabi akan mendirikan sebuah masjid, beliau mengumpulkan keluarga dari bani An-Najjar. Setelah mereka berkumpul beliau bersabda kepada ketua mereka : ”Hai sekalian Bani Najjar, hendaklah kamu sekalian menerangkan harga sebenarnya dari kebun-kebun kamu kepadaku, karena aku hendak membeli kebun-kebun itu.”

Mereka menjawab : ”Hai Rasulullah ! Kami tidak akan mengahargai kebun-kebun itu, karena hanya untuk ALLAH.”

Nabi tidak mau menerima jawaban mereka itu, dan beliau meminta kepada mereka, sekalipun dengan harga yang rendah, kebun dan tanah mereka supaya di berikan harganya, termasuk tempat yang di pergunakan buat mengeringkan kurma kepunyaan ke dua anak yatim yang bernama Sahal dan Suhail.

Tanah yang akan di tempati untuk mendirikan masjid itu sebagian kepunyaan As’ad bin Zurarah, sebagian tanah kepunyaan kedua anak yatim tersebut dan sebagian tanah kuburan kaum Musyrikin yang telah rusak. Tanah kepunyaan ke dua anak yatim itu di beli oleh Nabi dengan harga sepuluh dinar, dan sahabat Abu Bakar di suruh membayarnya. Tanah kuburan lama dan tanah As’ad bin Zurarah hanya di serahkan dengan sukarela kepada Nabi Muhammad s.a.w. Kemudian tanah-tanah itu dibersihkan dan di perbaiki bersama-sama oleh sekalian sahabat muhajirin dan Anshar, pohon-pohonnya di tebang, dan yang tadinya kuburan dibongkar dan di bersihkan, lalu semuanya di ratakan, kemudian mereka bekerja bersama-sama mendirikan Masjid.

Pekerjaan mendirikan masjid pun di mulai dan Nabi meletakkaan batu pertama, lalu beliau menyuruh Abu Bakar supaya meletakkan batu kedua di sebelah batu pertama yang beliau letakkan tadi, lalu sahabat Umar di suruh meletakkan batu yang ketiga di sebelah batu yang di letakkan oleh Abu Bakar, demikian juga secara berurutan sahabat Usman, dan kemudian sahabat ‘Ali, kemudian Nabi bersabda :

”Haulaail khulafaau ba’da.”
”Mereka itulah khalifah-khalifah sesudahku.”

Lalu Nabi memerintahkan kepada semua sahabat Muhajirin dan Anshar supaya masing-masing meletakkan batu bersama-sama. Selama mendirikan masjid ini, setiap Nabi mengankat batu sambil beliau berpantun yang bunyinya :

”Hadzal himaalu Laa himaala Khaibar. Hadza abarrubbanaa wa athar.”
”Barang bawaan ini bukan barang bawaan ke negeri Khaibar, tetapi ini lebih baik dan lebih bersih, Ya Tuhanku.”(Barang-barang yang di bawa ke negeri Khaibar itu ialah buah kurma, anggur dan lainnya. Jadi syair itu berarti bahwa batu-batu merah dan barang-barang lainnya yang di angkat oleh Nabi untuk mendirikan masjid itu adalah lebih baik dan lebih sudi dari barang-barang yang di angkat ke negeri Khaibar. Yang diangkat sama beratnya, tapi berlainan pahalanya)

Lalu beliau bersyair pula yang bunyinya :

”Allahumma innal ajra ajrul akhirat. Farhamil anshaara wal muhajirat.”
”Ya ALLAH ! Sesungguhnya pahala itu pahala akhirat: maka itu kasihanilah sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin.”

Dalam riwayat lain :

”Allahumma innal ajra ajrul akhirat. Faghfirlil anshari wal muhajirat. Wa ‘aafihim min harnarin saa’irat. Fainnahaa likaafirin wa kaafirat.”
”Ya ALLAH ! Sesungguhnya pahala itu pahala akhirat maka ampunilah sahabat Anshar dan Muhajirin. Dan lepaskanlah mereka dari panasnya api neraka yang berkobar-kobar, karena api itu bagi kafir lelaki dan kafir perempuan.”

Diriwayatkan : Bahwa para sahabat yang ikut serta bekerja, bila mereka mendengar ucapan syair sajak yang di ucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang tertera itu, mereka lalu menjawab dengan syair sajak pula, yang bunyinya :

”Lain qa’adnaa wannabiyyu ya’mal. Ladzaaka minnal ‘amalu mudhallal.”
”Jika kami duduk termenung, padahal Nabi bekerja, yang demikian itu sungguh amal perbuatan yang tersesat dari kami.”

Nabi dan semua sahabat Anshar dan Muhajirin bersama-sama mengangkat batu, meletakkannya, menyusunnya dan sebagainya. Dan dalam mengerjakan itu, semua sahabat Anshar dan Muhajirin bersyair bersama-sama :

”Allahumma Laa ‘aisyul akhirat. Farhamil muhajirina walaa nashirat.”
”Ya ALLAH ! Tidak ada kehidupan melainkan kehidupan di akhirat, maka kasihanilah kaum Muhajirin dan Anshar.”

Dan ada pula yang bunyinya :

”Allahumma Laa khaira illaa khairul akhirat. Faghfirlil anshaari wal muhajirat.”
”Ya ALLAH ! Tidak ada kebaikan melainkan kebaikan Akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajir.”

Dan demikianlah seterusnya, syair-syair itu dibaca dan di ucapkan bersama-sama oleh Nabi dan sekalian kaum Muslimin dalam pekerjaan mengangkat batu, meletakkan batu, menyusun batu, menyisipkan batu dan lain-lain. Beberapa hari kemudian masjid itu selesai didirikan dengan sangat sederhana. Pagarnya dari batu-batu dan tanah, tiang-tiangnya dari pohon-pohon kurma, atapnya dari pelepah-pelepah pohon kurma, halamannya di tutup dengan batu-batu kecil, tingginya di buat setinggi tegak manusia lebih sedikit, qiblatnya menghadap ke Baitul Maqdis, (sebab waktu itu perintah Tuhan supaya menghadap Baitullah belum di turunkan), pintunya adaa tiga buah, panjangnya ada tujuh puluh hasta dan lebarnya ada enam puluh hasta.

Disisi masjid itu didirikan dua kamar untuk tempat tinggal keluarga Nabi, sebuah untuk Saudah dan lainnya untuk ‘Aisyah. Pada waktu itu masjid sangat sederhana, tidaklah di hias-hiasi, tidak pula di taruh tikar-tikar di dalamnya, dan pada malam hari di gantungkan pelepah-pelepah kurma yang di nyalakan sebagai penerangan di masjid itu. 

Setelah masjid itu di selesai didirikan maka pindahlah Nabi dari rumah Abu Ayyub ke rumah yang didirikan di sebelah masjid itu.

(DiLain riwayat di terangkan : keadaan masjid yang di bangun oleh Nabi di kala itu amat sederhana. Masjid hanya merupakan sebuah bangunan yang berdinding empat, terbuat dari kapur dan pasir. Artinya, sebagian di lubangi dengan pelepah kurma, dan sebagian lagi di biarkan terbuka. Serambinya di sediakan untuk tempat para kaum fakir miskin yang tidak mempunyai rumah untuk tempat tinggal dan tidak berpencaharian. Disampingnya didirikan beberapa bilik untuk tempat tinggal pribadi Nabi dan keluarganya, yang juga sangat sederhana keadaanya, tetapi agak lebih tertutup dan rapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: