ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Kisah Nabi Muhammad S.A.W Pasca Hijrah : Kedatangan Nabi Muhammad S.A.W. di Quba

Image

Sebelum Nabi Muhammad.s.a.w sampai ke Madinah, maka kaum Muslimin disana telah mendengar kabar bahwa Nabi telah pergi meninggalkan Mekah menuju Yatsrib. Oleh sebab itu pada tiap-tiap hari mereka selalu mengaharap-harap dan menanti-nanti kedatangan beliau. Karena itu besarnya harapan mereka maka pada tiap-tiap hari sebagian dari mereka pergi bersama-sama ke suatu tempat atau kampung yang menjadi jalan untuk pergi ke Mekah, yang letaknya beberapa mil jauhnya dari kota Yatsrib (Madinah), dengan maksud hendak menyongsong kedatangan beliau. Tiap-tiap pagi mereka pergi ke kampung itu, dan apabila sampai siang hari belum ada tanda-tanda datangnya Nabi, mereka lalu pergi dan berteduh di suatu tempat lainnya, dan apabila sampai petang hari belum juga ada tanda-tanda datangnya beliau, mereka lalu pulang kembali ke Madinah.

Pada suatu hari pada waktu siang hari, pada saat matahari sedang memancarkan panasnya ke bumi, Nabi Muhammad s.a.w dan sahabat Abu Bakar telah sampai dan datang di suatu tempat yaitu kampung Quba’ namanya. Waktu itu di antara penduduk kampung Quba’ sudah banyak yang memeluk Islam. Tetapi tak seorangpun dari mereka sudah mengenal akan wajah Nabi Muhammad s.a.w dan Abu Bakar. Begitu juga mereka yang datang dari Yatsrib dengan maksud menyongsong kedatangan beliau, tidak seorangpun dari mereka telah mengenal Nabi Muhammad dan atau Abu Bakar. Sehingga mereka sekalian sama sekali belum mengetahui bahwa Nabi telah datang dan sedang berteduh di bawah sebatang pohon kurma. Waktu itu ada seorang Yahudi yang mengetahui bahwa dua orang yang sedang berteduh di bawah pohon kurma itu dan kedua-duanya berpakaian serba putih itu, ialah Nabi dan sahabatnya, yang sedang diharap-harap kedatangannya oleh kaum Muslimin. Maka itu seketika itu jugaa ia lalu naik ke suatu tempat tinggi, dan berteriak-teriak sekeras-kerasnya memanggil-manggil orang dari Madinah yang bermaksud menjemput itu :

”Hai orang-orang ‘Arab! Itulaah orang yang kami harap-harap dan kamu nanti-nanti kedatangannya telah datang!”

Demikianlah teriak orang Yahudi itu berulang-ulang.

Dengan segera merekaa yang berniat menjemput itu berlari-lari menuju ke tempat Nabi berteduh. Dan sampai mereka di sana, tahulah mereka bahwa di sana memang ada orang-orang dari luar kota yang baru datang dan sedang beristirahat di bawah pohon kurma. Tetapi mereka tidak mengetahui, yang manakah dari orang-orang itu seorang yang kedatangannya mereka nanti-nanti. Orang-orang Muslim dari Quba pun datang berduyun-duyun di tempat tersebut. Waktu itu yang mereka beri hormat adalah sahabat Abu Bakar, karena mereka menyangka bahwa barangkali dialah yang selama ini mereka nanti-nanti, dan bahwa Nabi itu kawannya. Maklumlah, mereka sama sekali belum mengenal wajah Nabi dan Abu Bakar.

Karena sahabat Abu Bakar mengerti bahwa sangkaan mereka itu keliru maka dengan segera mengibar-ngibarkan rida’ (selendang) nya lalu meneduhi Nabi Muhammad s.a.w. dengan selendang tersebut. Dengan itu barulah mereka mengerti bahwa orang yang dinanti-nanti itu ialah oraang yang di teduhi itu, yaitu Nabi Muhammad s.a.w. Hari itu adalah hari Itsnain (Senin) 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 dari tahun kenabian beliau, atau tahun ke 53 dari kelahiran beliau. Adapun berangkatnya dari Mekah adalah permulaan bulan Rabi’ul awwal tersebut. (Menurut keterangan Mahmud Pasya Al-Falaqy, seorang ulama ahli falaq terkenal di Mesir, bahwa hari kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. di Quba’ itu adalah bertepatan dengan 20 September tahun 622 Maasehi. Demikianlaah tersebut dalam kitab Nurul Yaqin)

Selanjutnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. oleh kaum Muslim di majukan permintaan supaya beliau berhenti beberapa hari di Quba’, dan permintaan itu di kabulkan oleh beliau, dan beliau lalu singgah dan berdiam di rumah seorang Muslim (seorang sahabat Anshar) yang ternama di kampung Quba’ yang namanya Kaltsum bin Hadam dari pada keluarga keturunan ‘Amr bin ‘Auf dari golongan Aus. Adapun sahabat Abu Bakar berdiam di rumah seorang yang namanya Habib bin Asaf dari keturunan Harits golongan Khazraj. Dan apabila ada orang-orang yang hendak bertemu dengan Nabi, beliau keluar dari rumah Kaltsum tersebut dan pergi ke rumah seorang yang bernama Sa’ad bin Khaitsamah.

Sebelum Nabi Muhammad berangkat hijrah ke Madinah, Nabi telah berpesan kepada sahabat ‘Ali r.a. bahwa apabila barang-barang kepunyaan orang lain yang dititipkan kepada beliau telah selesai di kembalikan kepada yang empunya masing-masing, maka hendaklah ‘Ali menyusul berhijrah ke Madinah bersama keluarga Nabi.

Oleh sebab itu sesudah ‘Ali menunaikan pesanan Nabi mengembalikan barang-barang itu, dengan diam-diam berangkatlah ia bersama-sama dengan keluarga Nabi serta keluarga sahabat Abu Bakar. Di antara mereka ini ialah Fathimah, Ummu Kaltsum, Saudah, Ummu Aiman dan anaknya yang bernama Usamah, Ummu Ruman (isteri Abu Bakar) dan anak-anaknya yang bernama ‘Aisyah, Asma’ dan Abdullah dan orang-orang Muslim yang dha’if-dha’if.

Mereka ini berhijrah ke Madinah dengan berkendaraan unta. Dan oleh karena kekurangan kendaraan, terpaksa ‘Ali berjalan kaki mengiringkan kendaraan-kendaraan yaang di naiki oleh keluarga Nabi dan keluarga Abu Bakar. Selama perjalanan, pada siang hari mereka berhenti dan bersembunyi, dan jika malam hari telah tiba, mereka berangkat dan berjalan lagi, yang demikian itu dengan maksud agar supaya perjalanan mereka tidak sampai di ketahui oleh musuh yaitu kaum Musyrikin Quraisy, yang jika mengetahuinya tentu akan menghalangi-halangi perjalanan itu. Maka setelah mereka sampai di Quba’ dengan selamat, tahulah bahwa kaki ‘Ali bengkak-bengkak dan banyak mengeluarkan darah, di sebabkan dari jauhnya perjalanan. Maka dari itu Nabi Muhammad memohon kepada ALLAH, mudah-mudahan bengkaknya kaki ‘Ali lekas di sembuhkan , sambil beliau dengan ke dua tangan beliau mengusap kaki ‘Ali. Dan seketika itu juga, ALLAH mengabulkan permohonan Nabi, dan dengan segera lenyaplah kesakitan kaki sahabat ‘Ali yang bengkak itu.

Nabi Muhammad s.a.w dan sahabat Abu Bakar berdiam di Quba selama lebih dari sepuluh hari sepuluh malam (menurut riwayat yang tersebut dalam shahih Muslim, selama empat belas hari empat belas malam). Dalam tempo selama itu di Quba’ mendirikan sebuah Masjid (tempat bersembahyang). Adapun tanah yang di pergunakan untuk mendirikan masjid itu ialah tanah kepunyaan Kaltsum bin Hadam juga. Yang pertama kali meletakkan batu ialah Nabi Muhammad s.a.w. lalu beliau menyuruh sahabat Abu Bakar supaya meletakkan batu, lalu sahabat Umar, lalu sahabat Utsman. Kemudian yang pertama kali menemboknya ialah sahabat ‘Ammar bin Yasir r.a. Selanjutnya pembuatan masjid di kerjakan bersama-sama oleh para sahabat Muhajirin dab Anshar. Masjid inilah masjid yang pertama-tama didirikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan masjid yang pertama-tama di dunia Islam, dan masjid inilah yang di sebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an dengan nama masjid Taqwa, yang hingga kini masih terkenal dengan nama masjid Quba’. (Masjid Quba itulaah yang di maksud oleh Al-Qur’an dengan nama Masjid ”At-Taqwa sebagaimana dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 109. Keterangan ini adalah keterangan dari sahabat Ibnu ‘Abbas r.a. dan lain-lainnya bersandar atas sabda Nabi Muhammad s.a.w.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: