ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Perspektif Sejarah : Lintasan Sejarah Orientalis, Snouck Hurgronje

Image

Oleh : WAHYUDI FATHAN AULI’A

Siapakah nama pahlawan Belanda yang berjasa melumpuhkan orang Islam di Nusantara? Yang paling populer, tentu saja : Snouck Hurgronje. Dialah salah satu orientalis terkemuka zaman imperialis Eropa tatkala mencengkram negeri-negeri di Asia dan Afrika.

Tidak bisa dipastikan siapa dan kapan sebenarnya orang Barat pertama yang tertarik untuk mempelajari dunia Timur. Namun yang jelas sebagian pendeta Barat pernah pergi menuju Spanyol(Andalusia), ketika negeri itu menjadi pusat peradaban dunia. Mereka belajar di sekolah-sekolah Islam di Spanyol; menterjemahkan al-Qur’an dan buku-buku Arab ke dalam bahasa-bahasa mereka; juga berguru kepada para sarjana Islam dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan: terutama filsafat, kedokteran dan ilmu pasti.

Jaebert, adalah salah seorang pendeta generasi pertama yang berguru di Spanyol. Sepulang belajar di Andalusia, ia kembali ke negeri asalnya. Bahkan terpilih menjadi paus Gereja Romawi pada tahun 999 masehi. Begitu pula Piere La Vanerble (1092-1156) dan Derald de Gremona (1114-1187). Di samping menjabat sebagai petinggi gereja, mereka juga menyebarkan kebudayaan Arab dan menyampaikan buku-buku karangan sarjana Arab yang mereka pelajari melalui lembaga-lembaga dan sekolah yang mereka dirikan. Beberapa buku termasyhur itu kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin: bahasa ilmu pengetahuan bangsa Eropa pada masa itu. Buku-buku itu bahkan, dijadikan sebagai buku kepustakaan utama sekolah-sekolah mereka. Kegiatan itu terus berlangsung selama enam abad, beberapa generasi setelah pendeta-pendeta awal tadi. Snouck Hurgronje adalah salah satu generai penerus mereka.

Dua abad kemudian, imperialisme Barat melucuti kedaulatan bangsa-bangsa didunia. Orang-orang Eropa masuk ke negeri-negeri Islam dengan tiga tujuan: gospel, golden dan glory. Pada masa itulah, mereka kembali mengumpulkan manuskrip-manuskrip agama untuk dipelajari. Bermacam cara mereka lakukan untuk mendapatkan manuskrip tersebut: membeli dari pemilik yang awam, atau mencuri dari perpustakaan-perpustakaan negeri jajahan mereka.

Sebagian besar manuskrip Arab itu berhasil dipindahkan ke berbagai perpustakaan negeri jajahan mereka. Sebagian besar manuskrip Arab itu berhasil dipindahkan ke berbagai perpustakaan di Eropa, sehingga pada awal abad ke-19 jumlah buku yang berhasil mereka bawa tidak kurag dari 250.000 jilid. 

Gospel, satu misi keagamaan: menjadi salah satu niat utama kolonialisme. Untuk menunjang misi itu tentu saja melibatkan para sarjana agama. Mereka menjadi penasihat bagi jenderal-jenderal pasukan Eropa ketika hendak menguasai suatu negeri. Para sarjana ini, dalam sejarah Islam kontemporer sering disebut dengan istilah kaum orientalis. Mereka inilah salah satu pionir lini depan dalam penaklukan-penaklukan negeri Islam kolonialis dari Barat.

Snouck Hurgronje Potret Orientalis di Nusantara

Nama Snouck Hurgronje begitu melekat dalam sebagian kalangan terpelajar di Indonesia. Betapa tidak, dialah salah satu aktor intelektual pergerakan orientalis di Indonesia. Bahkan, jika ada seorang sarjana muslim mulai berpikir dengan pola orientalis, serta merta dijuluki antek Snouck Hurgronje.

Sebagai pemerintahan kolonial, Belanda memerlukan Inlandsch politische: yaitu kebijaksanaan untuk memahami dan menguasai pribumi. Saat itu, pemerintahan kolonial Belanda menghadapi sebuah kenyataan: bahwa sebagian besar penduduk nusantara beragama Islam. Adanya berbagai perlawanan pemerintah penjajah di nilai tidak lepas dari sikap yang terkandung dalam ajaran Islam. Munculnya perlawanan seperti Padri dipelopori oleh Imam Bonjol (1821-1827), Pangeran Diponegoro (1825-1830), perang Aceh dengan tampilnya Tjoet Nyak Dien, Teuku Umar (1873-1903) merupakan suatu bukti bahwa perlawanan terhadap kolonial Belanda dipelopori oleh tokoh-tokoh yang taat pada Islam, yang oleh Belanda disebut Islam Fanatik.

Sikap pemerintahan kolonial Belanda menghadapi perlawanan masih mendua. Artinya, disatu pihak khawatir akan muncul pemberontakan lebih besar dari kalangan Islam Fanatik, namun dilain pihak Belanda merasa optimis dengan keberhasilan usahaKristenisasi, yang sengaja mendompleng pemerintah penjajah.

Snouck Hurgronje, datang pada tahun 1889. kedatangannya membawa nuansa baru dalam kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Setelah Snouck Hurgronje diangkat sebagai penasehat pemerintah melalui kantor Van Inlanchen Arabiche Zaken, ia menyampaikan beberapa saran kepada pemerintah Belanda antara lain. Sarannya yang pertama: pemerintah kolonial tidak perlu takut terhadap pengaruh para haji Indonesia. Menurutnya,pengaruh haji Indonesia yang mengancam stabilitas pemerintah akan berakhir apabila pemerintah mengadakan pendekatan terhadap ulama Makkah yang menjadi guru haji Indonesia.

Kedua, pemerintah tidak perlu takut dengan gerakan Pan Islamisme, karena Islam tidak kenal oganisasi kepausan seperti halnya Katolik. Menurut Snouck Hurgronje kekhalifahan Turki tidak lagi menjadi pusat, bahkan konon pemerintahan Turki saat itu telah memasukkan program Pan Islamisme ke dalam museum politik.

Ketiga, yang harus ditakuti pemerintah Belanda bukanlah Islam sebagai agama, tetapi Islam sebagai doktrin politik. Menurut Snouck Hurgronje, Islam politik biasanya dipimpin oleh kelompok kecil yang fanatik: yaitu para ulama yang bercita-cita membuktikan Pan Islamisme. Golongan ulama ini dianggap lebih berbahaya pengaruhnya kepada petani-petani di desa-desa. Maka pemerintah agar bertindak netral terhadap Islam sebagai agama dan harus tegas terhadap doktrin politiknya. 

Keempat, pemerintah harus berusaha mencegah para ulama jangan sampai duduk dalam badan eksekutif, untuk menghindari kefanatikan Islam di dalam parlemen.

Kelima, pemerintah Belanda harus berusaha mempersempit ruang gerak pengaruh Islam melalui kerjasama kebudayaan antara Indonesia dan Belanda: ini dapat dimulai dengan memperalat golongan priyayi yang selalu berdekatan dengan pemerintah, karena kebanyakan mereka menjabat sebagai pamong praja dan berpendidikan Barat.

Keenam, menghidupkankembali pamor golongan pemangku adat dan memberikan dana untuk upacara-upacara adat kepada mereka. Biasanya golongan adat ini kurang senang terhadap Islam.
Snouck merupakan potret orientalis terkemuka di nusantara yang paling ”legendaris” karena dianggap telah berhasil melengkapi pengetahuan Belanda tentang Islam: terutama bidang sosial dan politik di samping berhasil meneliti mentalis ketimuran dan Islam.

Siapakah Snouck Hurgronje ?

Nama lengkapnya, Dr. Christian Snouck Hurgronje. Lahir pada tanggal 8 Februari 1857 di Ostebout. Anak dari seorang pendeta yang sangat fanatik: JJ. Couk Hurgronje dan ibunya bernamaya Anna Maria. Ketika berusia 18 tahun ia masuk Universitas Leiden(1875). Mula-mula di fakultas Teologi, kemudian pindah ke Fakultas Sastra jurusan Bahasa Arab. Setelah berhasil meraih gelar doctor dalam bidang Sastra Semit (1880), ia mengajar pada pendidikan khusus calon egawai di Indonesia di Leiden, pada mata kuliah Hukum dan Agama Islam. Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang Islam dan bahasa Arab, ia pergi ke Jeddah (1884). Bahkan ia sempat berpura-pura masuk Islam agar ia dapat masuk ke kota suci Makkah. Ia juga pernah mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar. Nama tersebut hanya untuk memenuhi tugasnya sebagai orientalis yang bekerja pada pemerintah kolonial.

Saat berada di Makkah, Snouck mendengar ada perang Aceh berkecamuk: menggegerkan dunia Islam. Di kota suci itu Snouck bukan berkhidmat untuk beribadah, namun justru mengamati umat Islam Indonesia yang ketika itu sedang menunaikan ibadah haji. Seperti diketahui, muslim Indonesia di Makkah termasuk yang paling aktif dalam berbagai macam kegiatan. Mereka membentuk lembaga agama dan waqaf dalam rangka membantu mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri tersebut.

Maka wajarlah apabila Snouck dalam tulisannya tahun 1931 mengatakan bahwa di kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan nusantara; yang setiap detik selalumemompakan darah segar ke seluruh tubuh penduduk Indonesia. Di kota Makkah pula para mu’min berkenalan dengan lingkungan Islam internasional. Dengan Pan Islam: kedudukan mereka di sana merupakan jembatan antara kehidupan rohani di kota Makkah dan kehidupan beragama di tanah airnya. Hal tersebut olehnya, dikhawatirkan akan menjadi gangguan bagi pemerintah kolonial. Dalam perang Aceh, Snoucklah yang menasehati pemerintah Hindia Belanda agar menjalankan operasi militer ke daerah-daerah pedalaman dan menindak tegas ulama-ulama yang ada di kampung-kampung. ”Jangan berikan kesempatan para ulama menyusun kekuatan dengan membentuk santrinya menjadi pasukan sukarela,” usulnya kepada pemerintah kolonial. Namun, terhadap orang Islam yang awam, pemerintah Belanda harus menjanjikan bahwa pemerintah melindungi agama Islam.

Dr. Christian Snouck Hurgronje meninggal pada tanggal 26 Juni 1936 dalam usia 79 tahun, setelah menderita sakit. Jasadnya dimakamkan di sebuah kuburan tua di Leiden Holland.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: