ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Sejarah Kisah Hijrah Nabi Muhammad S.A.W : Berbagai-bagai Usul dalam Rapat itu.

Image

Rapat itu dibuka oleh Abu Jahal dengan pembukaan, dalam mana menguraikannya tentang diri Nabi s.a.w. daan pergerakan yang di kobar-kobarkan olehnya dan menerangkan adanya berbagai-bagai rintangan yang telah diperbuat oleh kepala-kepala kaum Quraisy atas diri Nabi s.a.w dan para pengikutnya. Dan akhirnya antara lain Abu Jahal berkata : ” Hari ini para pemuka dan ketua dari Qabilah-qabilah Arab dan pemimpin-pemimpin Quraisy serta pembesar-pembesar dari tiap-tiap suku bangsa Quraisy harus mengambil keputusan yang sesungguhnya : Cara apa yang hendak kita jalankan untuk memusnahkan pergerakkan Muhammad yang sedang mulai bernyala-nyala di segenap penjuru daerah Hijaz ini? Rapat ini adalah rapat kita yang terakhir untuk memecahkan soal ini. Marilah soal ini kita perbincangkan bersama-sama sebelum kita mengambil suatu keputusan yang pasti!” demikianlah rapat ini telah dibuka.

Setelah rapat itu mulai membicarakan usul-usul dari pada hadlirin, ada yang mengemukakan usul : ”Bahwa sebaiknya Muhammad itu di jaga saja di rumahnya. Dimuka, di belakang dikiri dikanan rumah itu diadakan penjagaan yang kuat, agar ia tidak berani keluar dari rumahnya. Adapun jika ia sampai berani keluar sewaktu-waktu, ditangkap saja dan terus dimasukkan ke dalam penjara, biar dia mati dengan sendirinya.

Ada pula yang mengusulkan : ”Lebih baik Muhammad itu dipenjarakan dalam surau rumah dengan di ikat kokoh-kokoh dan jendela rumah itu jangan di buka-buka. Makanan cukup dilemparkan dari luar, dan lain-lainnya hingga ia binasa.”

Segera bersuaralah orang tua penasehat tersebut : ”Oh, janganlah dia diperlakukan seperti itu! Saya tidaklah mufakat, Demi ALLAH! Jika sekiranya tuan-tuan berbuat demikian kepadanya tentulah sia-sia belaka. Sebab tuan-tuan telah tahu bahwa Muhammad itu adalah seorang yang cerdik dan licin. Karena jika dia diperlakukan semacam itu tentulah perintah-perintahnya dapat menembus melalui pintu keluar rumah kepada sahabat-sahabatnya, selanjutnya dapat juga pengikut-pengikutnya menolong dia, dengan jalan melompat dari luar pagar, dan akhirnya melepaskan dia dari ikatan tuan-tuan, bukan?” Demikianlah nasehat orang tua itu.

Dengaan serentak hadlirin menyahut : ”Betul katamu, hai orang tua! Memang sungguh betul begitu!”

Kemudian ada seorang yang berpendapat : ”Sebaiknya Muhammad itu ditangkap saja lalu di jirat dan di masukkan ke dalam peti mati dan ditutup rapat-rapat sampai ia binasa, habis perkara.”

Seorang lainnya berpendapat : ”Sebaiknya Muhammad itu kita serbu bersama-sama di rumahnya, lalu kita tangkap dan kita jirat, kemudian kita bawa dan pertontonkan di muka khalayak ramai. Akhirnya kita lihat saja nantinya bagaimana halnya, apakah ia mau merubah pikirannya atau tidak.”

Seorang lainnya lagi memaparkan pendapatnya : ” Oh, jangan begitu! Menurut hemat saya sebaiknya demikian : Kita, kepala-kepala dan ketua-ketua kaum Quraisy datang bersama-sama ke rumah Muhammad, lalu lebih dahulu kita bertanya kepadanya, apakah ia sanggup meghentikan kelakuannya yang sudah-sudah atau tidak. Jika Tidak, ia kita tangkap bersama-sama dan kita jirat lalu kita bawa kehadapan rapat ini. Kemudian terserah bagaimana sikap kita terhadap dirinya daan hukuman apa yang hendak kita jatuhkan atas dirinya. Biar dia mendengarnya sendiri disini.”

Oleh pimpinan rapat tentang usul-usul semacam itu dimintakan nasehat dari penasehat orang tua si iblis itu.

Pensehat itu memberikan nasehatnya kepada pimpinan rapat : ”Pendapat-pendapat itu kesemuanya belum dapat saya setujui. Maka itu carilah pendapat yang lain!”

Selanjutnya ada seorang lagi yang mengusulkan : ”Menurut hemat saya hal ini tidak usah saya bicarakan dengan panjang lebar. Sekarang sebaiknya kita memutuskan saja, untuk menyuruh dua orang gagah berani lagi perkasa buat menangkap Muhammad. Lalu ia di ikat dan di campakkan kedalam sumur, habis perkara. Sebab telah nyata-nyata bagi kita bahwa ia adalah seorang yang berani memecahkan persatuan dan kesatuan kita yang sudah kokoh dan melanggar serta menyalahi adat-istiadat kita yang telah beratus tahun di kerjakan oleh orang-orang tua kita.”

Ada pula seorang mengajukan usul demikian : ”Sekarang baiknya begini saja. Muhammad itu kita datangi bersama-sama dirumahnya lalu kita tanya dengan paksa, apakah ia mau tunduk dan mengikut kehendak kita atau tidak. Jika telah nyata bahwa ia tidak mau tunduk, sebiknya kita tangkap bersama-sama, kita bawa keluar rumahnya kemudian kita sakiti sedikit demi sedikit, agar ia jangan sampai mati. Sebab, kasian jika ia sampai mati. Maklumlah, karena ia itu adalah seorang anggauta kerabat kita, keturunan dari pahlawan-pahlawan kita dahulu. Bukankah kita sekalian masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan dia? Dengan cara demikian, barangkali saja kelak ia mau tunduk dan mau mengikuti kita.”

Ada lagi seorang berpendapat : ”Pendapat saya tidak begitu, sekalipun ia termasuk daripada kerabat kita, tetapi ia telah nyata-nyata memusuhi kita, maka dari itu lebih baik kita usir dari Mekah ketempat yang jauh benar-benar dari pergaulan kita untuk selama-lamanya. Sebab kalau kita aniaya di Mekah, sudah tentu pengikut-pengikutnya sama datang membelanya dengan sekuat-kuatnya, dan akibatnya disini tentulah terjadi pertumpahan darah antara sesama kita sendiri, bukan?”

Dengan suara perlahan-lahan orang tua penasehat itu memberikan nasehatnya : ”Menurut pertimbangan saya, tuan-tuan janganlah Muhammad diusir ke luar negeri, karena kalau ia diusir tentulah di tempat lain ia masih dapat menyiarkan pergerakannya.

Tentu hal ini telah tuan-tuan mengerti dan maklumi. Ia adalah seorang yang lidahnya licin, perkataanya lemah-lembut, suaranya manis dan ceriteranya menyenangkan. Sebab itu dimana saja ia tentu dapat memikat hati orang lain, bukan? Kita harus menginsyafi hal ini. Jadi kalu ia diusir keluar negeri tentulah ia akan memperoleh pengikut yang lebih banyak dan akhirnya dapat juga ia melawan dan mengalahkan tuan-tuan. Jadi saya tidak menyetujui usul pengusiran Muhammad.”

Nasehat itu disambut oleh hadlirin dengan serentak: ”Sungguh betul demi ALLAH, kata tuan yang terhormat itu. Kita mufakat bahwa jangan sampai ia diusir, sebab itu lebih berbahaya dan lebih menguatirkan!”

Demikianlah dalam Gedung Darun Nadwah itu terdengar suara gemuruh, sehingga penasehat itu berkata lagi : ” Tuan-tuan hadlirin yang terhormat! Dalam memperbincangkan tentang diri Muhammad janganlah terdengar suara yang riuh dan ramai, dan kita yang berapat ini orang-orang yang terpilih, bukan? Sebagai bukti, tatkala tadi saya mau masuk ikut berapat ini terus saja ditegur dengan keras oleh tuan-tuan pengurus rapat. Oleh sebab itu saya peringatkan sekali lagi, janganlah kita berunding dengan beramai-ramai sehingga suara kita terdengar dari luar. Sekarang marilah kita berunding dengan suara perlahan-lahan saja, karena saya khwatir, kalau-kalau rapat ini didengar oleh Muhammad. Kecuali itu saya peringatkan pula bahwa permusywaratan ini janganlah terhenti pada permusyawaratan saja, dengan tidak dapat mengambil keputusan, tetapi hendaklah dengan segera di perbincangkan dan diambil suatu keputusan. Karena seandainya hari ini rapat ini, tidak dapat mengambil suatu keputusan yang jitu, saya khawatir kalau-kalau rapat ini terdengar oleh Muhammad. Perlu saya terangkan bahwa Muhammad itu bukan orang sembarangan, ia adalah seorang yang mempunyai mata-mata dari orang halus …. Jadi andaikata rapat hari ini tidak segera mengambil keputusan yang pasti, niscaya tentara Muhammad orang-orang halus itu akan mengetahuinya dan mengabarkan kepadanya. Jika terjadi begitu, sudah barang tentu ia akan lekas melarikan diri dari sini, bukan?” 

Peringatan penasehat itu diterima oleh rapat pimpinan dengan senang hati. Lalu oleh pimpinan rapat penasehat itu dimintai pertimbangannya yang tepat dan jitu.

Penasehat yang ”mulia” itu menjawab :”Apakah dalam rapat ini tidak ada lagi yang mempunyai pendapat yang lain dari pendapat-pendapat yang sudah-sudah tadi? Karena saya berpendapat bahwa saya belum atau tidak menyetujui semua usul tadi itu. Maka dari itu cobalah sekali lagi kita masing-masing mengemukakan pendapat lain lagi dan pimpinan rapat hendaknya menawarkan hal ini kepada hadlirin.”

Nasehat-masehat itu diterima bulat-bulat oleh pimpinan rapat, dan kemudian ditawarkan keapda hadlirin. Pada waktu itu rapat menjadi sejuk, tidak ada lagi dari hadlirin yang mengemukakan usulnya kepada rapat. Pimpinan rapat menunggu beberapa menit supaya ada dari antara hadlirin yang mengemukakan pendapatnya, tetapi suasana rapat terus dingin.

Kemudian pimpinan rapat berkata:”Oleh karena sudah tidak ada lagi yang memaparkan pendapatnya, maka perlulah rasanya saya mengajukan usul saya sendiri kepada rapat. Dan karena usul yang hendak saya kemukakan itu agak panjang, maka sebaiknya pimpinan rapat ini saya serahkan kepada Abu Lahab. Apakah Hadlirin setuju?”

Dengan segera hadlirin menyahut: ”Setuju!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: