ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Sejarah Kisah Hijrah Nabi Muhammad S.A.W. : Nabi Muhammad S.A.W. Berangkat Meninggalkan Rumah.

Image

Pada hari adanya rapat dan keputusan tersebut itu ALLAH menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bunyinya. :

a030.png

 

 

 

 


”Dan ketika orang-orang yang tidak percaya sama berdaya-upaya atas engkau(Muhammad), karena mereka hendak melukai engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkaua, dan sungguh mereka berdaya upaya, adapun ALLAH itu sebaik-baik yang berdaya-upaya.”

(Al-Qur’an surat Al Anfal ayat 30)

 

Sesudah Jibril menyampaikan wahyu tersebut berkata kepada Nabi Muhammad s.a.w :

 

”Yaa Rasuulullah. Laa tabit hadzihil lailata ‘ala firaa syikalladzi kunta tabiitu ‘alaihi. Wa innallaha ya’muruka bilhijrati ilil madiinah.”

 

”Allah menyuruh engkau suapaya berangkat hijrah ke Madinah, hai Rasulullah! Janganlah engkau tidur malam ini diatas tempat tidur engkau yang engkau telah biasa tidur di atasnya, dan sesungguhnya ALLAH menyuruh engkau supaya berangkat hijrah ke Madinah.”

 

Dinyatakan pula oleh malaikat Jibril bahwa untuk kawan perjalanan hijrah beliau tersebut ialah sahabat Abu Bakar ash-Shidiq r.a.

 

Sesudah mendapat perintah dari ALLAH untuk berhijrah itu seketika itu dengan terburu-buru Nabi Muhammad s.a.w., pergi kerumah sahabat Abu Bakar, sedang waktu itu sedang siang hari dan panas terik. Beliau pergi dengan bertutup muka dan kepalaa. Maka sesampai beliau di rumah Abu Bakar, beliau memanggil-manggil nama Abu Bakar dengan sekeras-kerasnya. Kebetulan sekali waktu itu sahabat Abu Bakar r.a.’ sedang ada di rumah. Maka dengan adanya panggilan Nabi dengan suara keras itu terkejutlah sahabat Abu Bakar, karena ia tidak lupaa akan suara beliau Ia amat terperanjat melihat kedatangan Nabi s.a.w., yang terburu-buru itu, karena tidak biasanya tidaklah pernah beliau datang kerumahnya dan ke rumah siapa pun dengan terburu-buru dan di waktu siang hari pada saat panas matahari tengah seterik-teriknya. Dengan segera sahabat Abu bakar merasa bahwa mestilah kedatangan beliau itu mengandung atau membawa suatu hal yang penting. Maka dari itu dengan tergesa-gesa pula ia menyambut kedatangan beliau. Setelah Nabi masuk kedalam rumah Abu Bakar r.a., segera ia duduk daan berkata kepada sahabat Abu Bakar :

 

”Innallaha Ta’ala qad aadzinalii filkhuruuji wal hijrah.”

 

Sahabat Abu Bakar menyambut :

 

”Ashshuhbah, yaa Rasuulullah?”

 

”Berkawan dengan saya, ya Rasulullah?”

 

Jawab Nabi s.a.w. :

 

”Na’am, bi idznillah.”

 

”Ya, dengan idzin Allah”

 

Lalu sahabat Abu Bakar r.a., menangis, dari sebab suka citanya, sebab memang telah berbulan-bulan ia selalu mengharap-harap supaya lekas diidzinkan oleh ALLAH untuk berhijrah dari Mekah. Kemudian ia berkata, ”Ya, Rasulullah! Ambillah salah satu dari kedua ekor unta saya guna kendaraan tuan.”

 

Nabi memilih unta yang terbaik kepunyaan sahabat Abu Bakar, yang baru di belinya dengan harga 800 dirham. Dan unta itu dalam kitab tarikh disebutkan dengan nama ”Al-Qushwa.”

 

Selanjutanya Nabi Muhammad s.a.w, kembali kerumah dengan berjalan secepat-cepatnya. Dan sahabat Abu Bakar r.a, lalu berkemas-kemas, sertaa memerintahkan kepada keluarganya untuk menyediakan apa-apa yang menjadi kebutuhan orang berpergian jauh. Dua orang puterinya, Asma dan ‘Aisyah, sama menyediakan dan mempersiapkan dengan secukupnya bekal untuk orang berpergian jauh, seperti makanan, pakaian dan sebagainya.

 

Pada hari itu juga Nabi Muhammad s.a.w, memanggil sahabat ‘Ali r.a. Setelah ia datang menghadap Nabi s.a.w, oleh beliau diberi beberapa pesanan yang penting-penting, terutama hal-hal yang mengenai urusan rumah-tangga. Antara lain Nabi berpesan kepada ‘Ali supaya pada malam hari nanti ia bermalam dana tidur ditempat tidur beliau, seraya berselimut yang telah biasa dipakai oleh beliau setiap beliau tidur malam hari. Jugaa ‘Ali dipesan supaya barang-barang milik orang lain dititipkan kepada beliau dikembalikan kepada yang empunya. Semua pesanan itu diterima oleh sahabat ‘Ali untuk dituruti dan di kerjakannya.

 

Juga sahabat Abu Bakar r.a, berpesan kepada puteranya laki-laki yang bernama Abdullah supaya sepeninggal ayahnya ia tiap-tiap hari mendengar-dengarkan suara-suara orang Quraisy tentang kepergian Nabi Muhammad s.a.w, dan supaya ia tiap-tiap petang hari pergi bersama-sama dengan saudaranya perempuan, Asma ke gua Tsaur. Juga sahabat Abu Bakar berpesan kepada bujangnya yang bernama ‘Amir bin Fuhairah supaya selama beliau berdiam di gua Tsaur ia menggembalakan kambing-kambingnya di dekat gua tersebut agar air susunya dapat di pergunakan menjadi minuman oleh Nabi dan beliau sendiri. Kecuali itu sahabat Abu Bakar berpesan kepada seorang penunjuk jalan yang bernama ‘Abdullah bin ‘Uraiqith, supaya pada hari yang kelak beliau tentukan ia datang ke gua Tsaur untuk kemudian dia disuruh menunjukkan jalan ke Madinah bersama-sama dengan ‘Amir bin Fuhairah.

 

Setelah pada hari itu Nabi Muhammad sudah bersiap-siap, begitu pun sahabat Abu Bakar r.a, maka sesudah matahari terbenam dan kegelapan waktu malam datang sedikit demi sedikit dan sahabat ‘Ali telah berada di rumah Nabi, maka datanglah serombongan pemuda-pemuda Quraisy yang telah dipilih oleh rapat siang hari tadi dengan bersenjata lengkap. Mereka datang dengan diiringkan oleh para kepala dan ketua qabilah-qabilah Quraisy sebanyak seratus orang, kemudian mereka menyebarkan diri mengepung rumah Nabi di kiri’ kanan, muka dan belakang.

 

Pada saat itu dengan suara pelan-pelan Nabi Muhammad menyuruh sahabat ‘Ali supaya tidur di tempat tidur beliau dan berselimut dengan selimut beliau.

 

 

Ketika itu Abu Jahal berteriak-teriak dengan maksud mengejek dan menghina diri Nabi, dan katanya :

 

”Muhammad menyangka, jika kita mengikut kepadanya, kita akan menjadi penguasa-penguasa atas bangsa-bangsa Arab, dan merajai bangsa-bangsa lain di negeri-negeri kain, dan jika kita sudah mati, kita akan dibangunkan kembali hidup lalu akan dimasukkan ke dalam syurga, disana kita akan diberi makanan yang enak-enak, diberi perempuan yang cantik-cantik, diberi pakaian yang baik-baik, diberi perhiasan yang bagus-bagus dan sebagainya. Dan jika kita tidak mengikut kepadanya, kita akan di bunuh, kita akan di potong-potong seperti kambing, dan akan di perlakukan sebagai budak belian olehnya, dan sesudah mati, kita akan dibakar dengan api yang panasnya luar biasa dalam neraka.”

 

Nabi mendengarkan perkataan-perkataan Abu Jahal tersebut, kemudian beliau menjawab :

 

”Na’am, anaa aquulu dzalik, wa anta ahaduhum.”

”Ya, saya berkata demikian. Dan kaulah salah satu dari antara mereka(ahli neraka)

 

Dengan berjalan sangat perlahan Nabi Muhammad s.a.w, keluar dari rumah dengan diam-diam, tidak ada lagi seorangpun di antara mereka yang dapat mengetahuinya. Sebelumnya Nabi telah berpesan kepada ‘Ali kalau sahabat Abu Bakar datang supaya dengan segera di suruh menyusul beliau.

 

Adapun Nabi Muhammad s.a.w, ketika keluar dari rumah mengambil segenggam pasir ditaburkan keatas kepala-kepala pemuda yang bertugas menyerang beliau, sehingga mereka sekalian tidak mengetahui keluarnya beliau. Dalam pada itu beliau membaca :

 

a001.png

 

 

a002.png

a003.png

 

 

 

a004.png

 

a005.png

 

a006.png

 

 

 

a007.png

 

 

a008.png

 

a009.png

 

 

 

 


 

 

 

Yaa siin, 
Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,

Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,

(yang berada) di atas jalan yang lurus,

(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Kebanyakan orang kafir pasti mendapat azab karena tidak mengindahkan peringatan Allah.

Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Al-Qur’an surat Yasin ayat 1-9

 

Tiada berapa lama kemudian datanglah sahabat Abu Bakar dengan jalan sembunyi ke rumah Nabi dengan tidak diketahui oleh mereka seorangpun. Dan setelah ia diberitahu oleh sahabat ‘Ali bahwa Nabi Muhammad s.a.w, telah berangkat, maka dengan cepat ia menyusul perjalanan beliau. Di tengah perjalanan dapatlah ia bertemu dengan Nabi. Kemudian ia berjalan bersama-sama menuju ke gunung Tsaur. Waktu itu sahabat ‘Ali lalu tidur di tempat tidur Nabi dengan pulasnya serta berselimut dengan selimut beliau. Maka dari itu jika para pengepung rumah itu mengintai-intai ke dalam rumah Nabi, kelihatanlah oleh mereka bahwa beliau sedang tidur dengan pulasnya.

 

Menurut suatu riwayat, bahwa dari mereka itu ada seorang yang mengintai-intai ke dalam rumah dengan jalan memanjat ke atas rumah.

 

Maka jika ia sedang memanjat, terdengarlah olehnya tangis seorang anak perempuan, lantaran itu terburu-buru ia turun lagi. Dan begitulah sampai berkali-kali. Sebab menurut adat istiadat kesopanan bangsa Arab Quraisy pada masa itu, hinalah seorang ksatria membunuh seorang lain dengan masuk ke dalam rumah dari yang akan di bunuhnya, dan demikian pun hinalah rasanya sipembunuh itu jika ia sampai merusak keamanan seorang perempuan. Adapun anak perempuan yang menangis tadi, sudah tentu seorang dari pada keluarga Nabi Muhammad yang sedang tidur. Dan demikianlah seterusnya, mereka selalu mengintai-intai ke dalam rumah dari luar rumah belaka, dan mereka menyangka bahwa Nabi Muhammad masih ada dalam rumah itu dan sedang tidur dengan pulasnya.

 

Sampai jauh malam para pengepung rumah itu menanti-nanti keluarnya Nabi Muhammad s.a.w, sehingga mereka sama mengantuk dan setengahnya ada yang sampai tertidur di atas pasir. Kemudian setelah kira-kira perjalanan Nabi dengan sahabat Abu Bakar sampai ke gunung Tsaur dengan sekonyong-konyong datanglah kepada para pengepung itu seorang laki-laki tua yang belum pernah mereka kenal, dan lalau orang tua itu berkata dengan suara nyaring :

 

”Hai orang banyak! Kamu semua disini menunggu apa?” mereka dengan terperanjat semua bangun, dan dari antara mereka itu ada yang menjawab : ”Kami sedang menunggu Muhammad!”

 

”Mengapa kamu semua enak tidur dengan pulasnya?” kalau kamu menanti-nanti Muhammad disini, ia tidak akan kamu dapati,” kata orang tua tersebut.

 

Mereka menyahut : ”Mengapa begitu? Muhammad tokh masih tidur di dalam, bukan?”

 

Kata orang tua itu : ”Hmm, kasihan! Kasihanlah kamu semua ini, oh, sangat kasihan! Muhammad sudah pergi dari tadi, mengapa kamu tunggu-tunggu saja, hai orang-orang yang gagah perkasa!”

 

Mereka menjawab : ”Ah, tidak boleh jadi! Kami tahu, bahwa Muhammad masih tidur di dalam, mengapa engkau bilang ia sudah pergi?”

 

Orang tua itu berkata : ”Kalau kamau semua tidak percaya, cobalah lihat pada kepala kamu, siapakah yang menaburkan pasir diatas kepalamu masing-masing itu?”

 

Kelima pemuda yang gagah perkasa lagi bersenjata lengkap yang bertugas membunuh Nabi Muhammad, itu lalu meraba kepala masing-masing dan saling memandang teman-temannya, dan ternyatalah bahwa diatas kepala mereka ada pasirnya.

 

”Ah, kurang ajar!” sungut mereka itu. ”Siapakah yang menaburkan pasir di atas kepala kita? Ah, memang terlalu!”

 

Dalam pada itu mereka umumnya tidak mau percaya kepada perkataan-perkataan orang tua itu, sehingga salah seorang dari mereka mengetuk pintu rumah Nabi dengan sekeras-kerasnya sambil berteriak-teriak memanggil-manggil nama Nabi : ”Muhammad! Muhammad! Muhammad!” demikianlah sampai berulang-ulang.

 

Oleh karena di luar rumah ada suara ramai-ramai dan ada yang mengetuk pintu dengan kerasnya, terbangunlah sahabat ‘Ali r.a, dari tidurnya, lalu ia membukakan pintu itu dengan suara lemah lembut ia berkata :

 

”Ada apa?”

 

Mereka menyahut : ”Mana Muhammad?”

 

Sahabat ‘Ali : ”Entah, saya tidak tahu.”

 

Mereka : ”Siapakah yang tidur tadi?”

 

Sahabat ‘Ali : ”Sayalah yang tidur.”

 

Lalu mereka mengerubut sahabat ‘Ali, dan diantara mereka ada yang masuk ke dalam rumah. Mereka berkata : ” ‘Ali mana Muhammad? Sebetulnya ia pergi kemana?”

 

Ali menjawab : ”Saya tidak tahu, karena saya tidur mulai sore tadi.”

 

Mereka : ”Ah, amat mustahil kalau engkau sampai tidak tahu, senungguhnya bilamana Muhammad pergi dari rumah?”

 

‘Ali menjawab : ”Saya berkata dengan terus terang, saya tidak tahu. Sebab saya tidur sejak sore tadi.”

 

Meraka : ”Hai ‘Ali sebetulnya saja Muhammad sekarang dimana. Katakanlah dengan sebenarnya kepada kita!”

 

‘Ali menjawab : ”Sebenarnya saya tidak tahu keman ia pergi.”

 

Mereka : ”Kalau engkau tidak mau berkata dengan sebenarnya, nanti engkau saya bunuh dengan ini, ‘Ali!” Mereka berkata itu sambil menunjukkan pedangnya yang terhunus kemuka ‘Ali.

 

‘Ali menjawab : ”Sekalipun saya hendak kamu bunuh, leher saya hendak kamu potong dengan itu, saya tetap berkata : tidak tahu, karena memang saya tidak tahu.”

 

Pendek kata sampai berulang-ulang mereka memaksa ‘Ali supaya menerangkan ke mana kepergian Nabi Muhammad, tetapi ia tetap dengan teguh hati menjawab : ”Tidak tahu.”

 

Kemudian sahabat ‘Ali di tarik keluar oleh mereka sambil di kerubut, lalu ditanya lagi oleh kelima orang pemuda itu dengan cara kejam, tetapi ia tetap menjawab ”Tidak Tahu”

 

Kemudian ia ditarik-tarik ke masjid, dan di dalam masjid ia di hujani dengan tendangan, tempelengan, pukulan, tinjuan dan sebagaianya oleh mereka, tetapi beliau tetap menjawab: ”Tidak Tahu.” Demikianlah seterusnya, hingga lebih dari satu jam ia di aniaya oleh mereka. Tetapi akhirnya mereka melepaskan dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: