ToS Syurga Neraka

Tidak ada Tuhan selain ALLAH maka dirikanlah Sholat untuk mengingat ALLAH

Tentang Jihad Menurut Islam

Image

Agar supaya bertambah jelas semua uraian atau keterangan tentang jihad, macamnya dan tingkatannya tersebut di muka, maka perlulah memberikan lagi penjelasan-penjelasan sekalipun dengan ringkas, dengan pandangan-pandangan dari ulama-ulama ahli tafsir dan ahli hadist yang terkenal di segenap penjuru dunia Islam.

Mula-mula ”Jihad fi sabilillah” (berperangnya membela agama ALLAH) itu bagi tiap-tiap orang Islam berkewajiban mengerjakannya. Adapun yang dmaksudkan dengan ”berperang” itu sudah tentu memerangi orang-orang yang menyekutukan Tuhan dan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan terang-terangan memusuhi Tuhan.

Tetapi ketahuilah dan Camkanlah ! Orang-orang Islam tidak akan dapat memerangi mereka itu jika mereka sebelumnya belum atau tidak sungguh-sungguh telah memerangi ahli-ahli penganiaya pendurhaka, ahli-ahli kejahatan atau kemungkaran dan ahli-ahli bid’ah di dalam urusan agama Islam ; dan orang Islam tidak akan dapat memerangi golongan-golongan orang tersebut jika sebelumnya tidak atau belum sungguh-sungguh telah memerangi syaithan-syaithan yang selalu mengganggu, mengusik dan menggoda dirinya sewaktu hendak mengerjakan perintah-perintah ALLAH dan menjauhi dan mencegah larangan-larangan- Nya, dan orang Islam tidak akan dapat memerangi syaithan-syaithan itu jika sebelumnya mereka belum atau tidak sungguh-sungguh telah memerangi hawa nafsunya sendiri yang senantiasa merintangi dan menghalangi dirinya manakala hendak menuntut kebenaran.

Amat mustahil sekali seseorang atau suatu golongan dapat memerangi musuh yang datang dari luar jika musuh yang ada di dalam belum atau tidak diperangi dan dikalahkan lebih dulu. Karena musuh yang ada di dalam itu, lebih berbahaya, dan jika sudah dapat ditaklukan lebih dahulu, pasti akan menjadi penyokongnya dan bala tentaranya, dan baru sesudah itu musuh dari luar dapat di taklukan pula.

Orang takkan dapat memerangi atau melawan seruan syaithan, jika dirinya sendiri tidak atau belum ”mujahadah” (bersungguh-sungguh melawan) terhadap keinginan-keinginan hawa nafsunya. Jadi nafsunya harus dikalahkannya atau ditaklukkannya supaya dirinya berani bersusah-payah mencurahkan segenap kekuatannya untuk menuntut kebenaran, kebenaran yang berdasarkan/bersandarkan atas kesucian, lalu ia harus rajin mengerjakannya, kemudian menyiarkannya kepada orang banyak. Sesudah demikian halnya, barulah ia dapat memerangi syaithan-syaithan, karena syaithan-syaithan itu bersungguh-sungguh hendak menyesatkan orang dari kebenaran, dari jalan yang benar. Jadi, seseorang dapat memerangi syaithan-syaithan itu jika dirinya lebih dulu telah dapat mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang mengikut dan sesuai dengan kehandak Tuhan yang Rahman dan mana yang menurut kehendak syaithan. Baru dengan demikian syaithan-syaithan itu niscaya jatuh dengan sendirinya. 

Selanjutnya seseorang tidak akan dapat memerangi kepala-kepala pendurhaka dan penganiaya, pelopor-pelopor kejahatan dan kemungkaran, kepala-kepala ahli bid’ah dan pengubah agama ALLAH yang suci, jika sebelumnya ia tidak atau belum mengetahui mana yang jahat, mana yang kedurhakaan, mana perbuatan yang menyalahi agama ALLAH dan mana perbuatan-perbuatn bid’ah. Jadi seseorang dapat memerangi dan mengalahkan golongan-golongan itu, baik dengan tangan, maupun dengan lisan dan ataupun dengan hati, jika iad sudah dapat memerangi dan mengalahkan syaithan-syaithan, dan telah menjatuhkan musuh-musuh yang ada dalam dirinya, dan telah dapat membedakan mana yang bid’ah dan mana yang sunnah, mana yang jahat dan buruk dan mana yang baik, dapat mengetahui mana yang tersesat dan mana yang benar dan seterusnya.

Kemudian, orang Islam tidak akan dapat memerangi dan mengalahkan kaum-kaum Musyrikin, Kafirin dan sebagainya sewaktu-waktu mereka mengganggu dan menyerang kaum Muslimin dan agama Islam, jikalau di dalam kaum Muslimin sendiri masih penuh dengan perbuatan-perbuatan yang mungkar, perbuatan-perbuatan bid’ah, kelakuan-kelakuan yang keji dan jahat, penindasan-penindasan, penganiayaan-penganiayaan dan berbagai hal yang mendurhakakan. Maka dari itu, jika kaum Muslimin telah bersih sama sekali daripada kekotoran-kekotoran itu, sudah barang tentu mereka dengan mudah dan semudah-mudahnya dapat mengalahkan siapa saja yang mengganggu dan menyerang keamanan Islam dan ketertiban Muslimin.

Demikianlah singkatmya penjelasan tentang jihad yang diperintahkan oleh Islam kepada kaum Muslimin, dan yang demikian itulah jihad dijalankan dan dilaksanakan oleh Nabi Muhammad s.a.w, serta kaum Muslimin pada masa itu. Diantara kaum Muslimin yang hendak mengetahui lebih lanjut dan mengerti lebih luas tentang soal jihadsebagaimana diterangkan diatas, dapat mengetahuinya dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar, kitab-kitab tarikh yang besar, disana akan mereka dapati bukti-bukti, bagaimana cara Rasululloh dan kaum Muslimin pada masa itu dari berjihad terhadap hawa nafsu sampai berjihad terhadap orang-orang dan golongan-golongan yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

Uraian tersebut diatas dirangkum dalam pandangan Imam Ibnul Qoyyim yang tersebut dalam kitab karyanya ”Zadul Ma’ad” jilid II, dan ditambahkan uraian dari Yang Mulia Syekh Muhammad ‘Abduh dalam kitab tafsirnya Al Manaar jilid 10.

Dan dibawah ini kami tambahkan uraian dari Syekh Thanthawy Jauhary, ahli filsafat Islam yang terkenal sejak masa akhir-akhir ini, uraian kami salinkan dengan singkat dari kitab karyanya ”Al-Qur-an wal ‘ulumul ‘ashriyyah”(Al-Qur-an dan Pengetahuan Modern)

Beliau berkata : ” Orang-orang yang kurang mengerti banyaklah yang menyangka bahwa jihad itu tidak lain melainkan memerangi orang kafir belaka. Sekali-kali tidak begitu! Sebagaimana ‘ulama-‘ulama ahli hukum agama yang benar-benar telah mengerti telah menetapkan, jihad itu tidaklah terbatas memerangi musuh belaka, tetapi mengandung arti, maksud dan tujuan seluas-luasnya. Memajukan pertukangan, kerajinan, pertanian, membangun negara, mengusahakan ketinggian budi pekerti, dan memuliakan dan meninggikan derajat suatu ummat, itu semuanya termasuk perbuatan ”Jihad” juga, yang tidak kurang-kurang kepentingannya dan jasanya dari pada orang-orang yang mengangkat senjata kepada musuh.

Lebih lanjut beliau berkata : ”Sesungguhnya barisan bala tentara yang berhadap-hadapan dengan musuh, tidak akan kuat dan kuasa bertahan diatas kedudukannya, kecuali jika dibelakang, bala tentara itu ada pemerintahan yang teratur rapi, yang mempunyai pabrik-pabrik senjata selengkap-lengkapnya, mempunyai persediaan makanan yang secukup-cukupnya, untuk dikirimkan kemedan pertempuran. Maka dari itu, barang siapa menyangka kaum petani yang mengolah sawah ladangnya, yang berusaha mengeluarkan segala apa yang ada di dalam dunia, tukang-tukang besi dan pembuat-pembuat senjata dan alat-alat pengangkutan serta tukang-tukang kayu yang melengkapkan alat-alat itu, dan ahli-ahli pembuat makanan untuk persediaan makanan balatentara, itu lebih rendah dan lebih sedikit pahalanya di akherat daripada balatentara yang berjuang dan bertempur di medan pertempuran, maka ia adalah bodoh sebodoh-bodohnya tentang urusan agama dan tersesatlah pendapatnya, dan dia adalah seseorang dari pada orang-orang yang lalai tentang Islam yang sebenarnya. Padahal junjungan kita Nabi Muhmmad s.a.w. sendiri tatkala kembali dari slah satu peperangannya pernah bersabda :

”Kita telah kembali dari perang yang kecil ke perang yang besar, ialah perang terhadap nafsu”

Apakah itu bukan suatu petunjuk, hak kaum Muslimin, bahwa berperang terhadap hawa nafsu itu lebih tinggi derajatnya dari pada memerangi musuh(orang-orang kafir)?

Adapun berperang terhadap hawa nafsu ialah meninggalkan sifat dan kebiasaan malas, berusaha mengerjakan pembangunan-pembangunan, meninggikan derajat ummat, menjelajahi bumi untuk ilmu pengetahuan, mendidikkan ketinggian budi pekerti dan sebagainya. Maka dari itu, orang yang mendidik dirinya sendiri supaya baik dan benar ialah mujahid (orang yang berperang); berusaha menjalankan pembangunan-pembanguna itu berperang ; mengembara di muka bumi untuk mengetahui hal-hal yang berguna bagi kaum Muslimin, itu berperang ; dan orang alim yang pengetahuannya berguna bagi kaum Muslimin itupun berperang pula.”

Disamping uraian tersebut, baiklah dibawah ini dikutipkan salah satu riwayat dari Nabi Muhammad s.a.w. yang menunjukkan bahwa arti ”Jihad” itu tidak hanya berperang untuk memerangi orang kafir atau musyrik.

”Dari Ka’ab bin Ujrah r.a. ia berkata : Telah berlalu seorang lelaki dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. Lalu para sahabat Rasulullah melihat kekuatan dan ketangkasan orang itu, maka mereka berkata: ”Alangkah baik dan hebatnya jika orang ini berperang pada jalan Allah?” maka Rasulullah bersabda,: ”Jika ia keluar berusaha untuk anaknya yang kecil-kecil, maka ia pada jalan ALLAH, dan apabila ia keluar berusaha untuk keperluan orang tua yang telah lanjut umurnya, maka ia pada jalan ALLAH, dan jika ia keluar berusaha untuk dirinya agar terpelihara kehormatannya, maka ia pada jalan ALLAH; dan jika ia keluar berusaha karena riya dan bermegah diri, maka ia pada jalan syaithan.” (riwayat Ath-Thabarany dengan rijal shahih)

Dengan demikian bertambah jelaslah, bahwa arti jihad sepanjang pengetahuan Islam itu luas sekali.

Mohon Kesediaanya untuk menyebarluaskan ilmu ini, karena saya memuat post ini agar semua umat islam mengetahui sedikit dari pada pengetahuan Islam.
Semoga Allah mengganjarkan dangan pahala dan menaikkan derajat orang yang menyiarkan ilmu Allah ini kepada keluarga, kerabat dan sahabat serta kaum Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 18, 2012 by and tagged .
%d blogger menyukai ini: